Loading...

√ Metode Menanggapi Sebuah Pementasan Drama

Ketika kita menjadi seorang juri dalam pementasan sebuah drama sebaiknya kita harus cakap dalam menilai menanggapi pementasan tersebut. Disini saya akan sedikit membahas mengenai kita-kiat menggapai sebuah pementasan drama. Menanggapi ialah memperlihatkan ulasan, komentar, pendapat dan kritik atau evaluasi secara verbal terhadap suatu pementasan karya sastra. Seperti yang saya kutip dalam Depdiknas, (2004:206) ada beberapa tahapan dalam menanggapi pementasan drama yaitu sebagai berikut:


Ketika kita menjadi seorang juri dalam pementasan sebuah drama sebaiknya kita harus cakap  √ Metode Menanggapi Sebuah Pementasan Drama
Metode Menanggapi Sebuah Pementasan Drama

(1) Menghayati pementasan
Ini ialah sebuah Langkah awal yang harus dilakukan sebelum menanggapi pementasan karya sastra  adalah menghayati dengan sungguh-sungguh pementasan karya sastra yang akan ditanggapi. Setelah menyimak pementasan karya sastra dengan cermat ada dua hal yang ditanggapi dari pementasan karya sastra. Pertama, balasan terhadap karya sastra yang dipentaskan. Kedua, balasan terhadap teknik pementasan karya sastra.
(2) Menentukan topik yang akan ditanggapi
Sewaktu menyaksikan pementasan pusatkan perhatian pada isi karya sastra yang dipentaskan dan pada teknik pementasannya. Catatlah hal-hal penting yang pantas untuk ditanggapi. Ada dua hal yang sanggup ditanggapi yaitu: “Unsur-unsur kisah drama yang dipentaskan dan  teknik pementasannya. Unsur-unsur drama yang sanggup ditanggapi ialah tokoh dan karakternya, alur, latar, tema serta penggunaan bahasanya. Adapun teknik pementasan drama mencakup penghayatan, olah vokal dan penampilan”(Depdiknas, 2003:83). Sebelum memperlihatkan balasan perlu kita mengetahui bagaimana kaidah pementasan karya sastra. Ada tiga kaidah yang harus diperhatikan yaitu: “Penghayatan, olah vokal dan penampilan” (Depdiknas, 2004:24). Artinya, di dalam pementasan drama seorang pemain film atau aktris juga harus menghayati tugas yang dibawakannya. Di samping itu, ia harus bisa mengucapkan suara bahasa dengan tepat, artikulasinya jelas, mengatur jeda dengan baik dan lancar dalam berbicara. Selanjutnya, ia juga harus bisa menguasai panggung, mengatur gerak biar tidak berlebihan dan menampilkan mimik yang alamiah.
(3) Mempersiapkan alasan yang logis
Di atas telah disebutkan bahwa menanggapi  pementasan karya sastra bermakna memperlihatkan alasan, komentar, pendapat dan kritik secara verbal terhadap pementasan karya sastra. Berdasarkan pengertian tersebut sanggup dimaknai bahwa balasan itu merupakan pendapat pribadi. Pendapat itu biar sanggup diterima orang lain maka orang yang memperlihatkan balasan itu harus sanggup memberi pendapat  yang terperinci dan masuk akal.

(4) Menyusun kerangka
Berdasarkan butir-butir balasan yang telah dibentuk gres kemudian  menyusun kerangka tanggapan. Butir-butir balasan itu hendaknya disusun secara beruntun sesuai dengan uraian balasan yang akan  disampaikan.  Demikian juga bukti-bukti atau argumen yang akan dikemukakan untuk mendukung pendapat harus disusun secara sistematis.
Kerangka balasan identik dengan kerangka pembicaraan. Kerangka pembicaraan yang tersusun baik akan bermanfaat bagi pembicara sendiri dan pendengar. Bagi pembicara kerangka itu berfungsi sebagai pedoman atau penuntun arah dalam berbicara. Sedangkan, bagi pendengar kerangka sanggup berfungsi sebagai sarana yang memudahkan untuk mengikuti dan memahami isi pembicaraan.

(5) Menyampaikan balasan secara lisan.
Baru kemudian menanggapi secara verbal pementasan karya sastra. Pembicara hendaknya berpedoman pada butir-butir yang telah disiapkan dan hendaknya memberikan butir-butir itu satu demi satu secara masuk akal tidak berlebih-lebihan apalagi dibuat-buat. Adakan kontak dengan pendengar melalui pandangan mata, anggukan, senyuman dan perhatian biar terjalin komunikasi yang baik.
Penyampaian balasan memakai bahasa yang sederhana sesuai dengan taraf kemampuan pendengar. Usahakan biar  berbicara dengan santun dan tidak menyinggung perasaan orang lain. Atur suasana biar tidak terlalu formal. Suara Anda hendaknya terperinci sehingga sanggup didengar oleh seluruh pendengar dan hindari sikap-sikap yang kurang baik seperti: menggaruk-garuk kepala, mencuil-cuil hidung dan pendengaran serta terlalu banyak bergerak.
Kegiatan menanggapi secara verbal pementasan karya sastra merupakan bab dari aktivitas berbicara. Sebagai bab dari aktivitas berbicara hendaknya memenuhi kaidah-kaidah berbicara. Pemenuhan terhadap kaidah-kaidah berbicara itu pada karenanya akan menghasilkan pembicara yang ideal.

Sebelum hingga pada uraian perihal kaidah-kaidah yang harus dipenuhi oleh seseorang yang menanggapi secara verbal pementasan karya sastra ada baiknya kita mengetahui ciri-ciri pembicara yang ideal. Menurut Tarigan (dalam Imam dkk, 2004:86) menyebutkan ada beberapa ciri-ciri pembicara yang baik ialah sebagai berikut: 

(a) Memilih topik dengan tepat;
(b) Menguasai materi;
(c) Memahami latar belakang pendengar; 
(d) Mengetahui situasi;
(e) Tujuannya jelas;
(f) Kontak dengan pendengar; 
(g) Kemampuan linguistiknya tinggi; 
(h) Menguasai pendengar;
(i) Memanfaatkan alat bantu; 
(j) Penampilannya meyakinkan dan 
(k) Berencana.

Berpedoman pada ciri-ciri pembicara ideal tersebut sanggup dirumuskan perihal kaidah-kaidah yang harus dipenuhi dalam menanggapi secara verbal pementasan karya sastra. Adapun kaidah-kaidah itu meliputi: “Ketepatan, kelancaran, kewajaran, dan  penggunaan bahasa”( Depdiknas, 2004:86).
Ketepatan berkenaan dengan aspek kesesuaian isi balasan dengan hal yang ditanggapi. Ketepatan juga bekerjasama dengan kesesuaian antara balasan dan alasan terhadap balasan yang dikemukakan. Jika balasan itu berupa evaluasi terhadap pementasan drama, contohnya pembicara harus memperlihatkan alasan yang berpengaruh perihal penilaiannya itu menurut bukti-bukti yang nyata.
Kelancaran bekerjasama dengan ada tidaknya kendala pada ketika menanggapi secara verbal pementasan karya sastra. Penuturan yang tidak tersendat-sendat dan tidak banyak jeda untuk memberi waktu berpikir ialah menunjukan kelancaran berpendapat.

Kewajaran artinya dalam penampilan juga merupakan sesuatu yang patut menerima perhatian. Kewajaran gerak dan mimik merupakan bab penting yang akan mendukung keberhasilan seseorang dalam menanggapi secara verbal di samping kesantunan dalam bersikap. Masalah penggunaan bahasa artinya di dalam menanggapi secara verbal pementasan karya sastra diperlukan sanggup memakai bahasa yang komunikatif, kata dan kalimat yang sederhana, santun, gampang dipahami, artikulasi terperinci dan pelafalan serta intonasi yang tepat.  Dengan kata lain, aspek kebahasaan yang perlu diperhatikan ialah aspek pelafalan, intonasi, artikulasi, pilihan kata dan susunan kalimat.

Berdasarkan uraian di atas karenanya sanggup dibentuk alat evaluasi kemampuan menanggapi secara verbal pementasan karya sastra yang mencakup empat komponen yaitu: ketepatan, kelancaran, kewajaran dan penggunaan bahasa. Menurut Imam dkk (2004:87-88) berikut ini disajikan deskripsi tiap-tiap komponen evaluasi sebagai berikut:

a. Ketepatan
  1. Kesesuaian isi;
  2. Keruntutan tanggapan;
  3. Kelogisan alasan.

b. Kelancaran
  1. Tidak tersendat-sendat;
  2. Tidak banyak jeda/ perhentian.

c. Kewajaran
  1. Kewajaran gerak;
  2. Kewajaran mimik;
  3. Kewajaran sikap.

d. Penggunaan bahasa
  1. Pelafalan tepat;
  2. Intonasi tepat;
  3. Artikulasi jelas;
  4. Pilihan kata sempurna dan santun;
  5. Kalimat sederhana dan komunikatif.

Komponen evaluasi di atas sifatnya tidak mutlak. Berdasarkan pengalaman di lapangan tentunya sanggup dimodifikasikan sesuai dengan kebutuhan.


Sumber http://www.pondok-belajar.com/
Buat lebih berguna, kongsi:

Trending Kini: