
Pernah gak sih, teman-teman merasa "BaPer" a.k.a Bawa Perasaan. Istilah "BaPer" sangat tak abnormal ditelinga para insan yang lagi kasmaran atau yang lagi punya odo'-odo'.
Seketika semua indera akan aktif dikala si "doi" berada di sekitaran kita, seketika apa saja yang terjadi dengannya dihubung-hubungkan dengan diri kita. Okay, saya akui pernah mengalami hal itu, alasannya yaitu suatu moment yang diciptakan dari si "doi" dan saya juga gak ngerti maksudnya apa? *
Haha, bagi insan mungkin gak problem aja jikalau tertangkap lembap mengalami perasaan "BaPer", tapi ya tetap aja ada batasannya. Batasan yang gak boleh dilanggar dalam hal bermasyarakat, jangan hingga cuma alasannya yaitu itu korelasi sosial dengan si "doi" malah gak terjalin dengan baik. Dari yang dulunya erat malah jadi jauh, kan sayang :)
"BaPer" juga bergotong-royong sanggup buat laba buat yang merasakannya, (mungkin, gak yakin juga sih!) contohnya dengan "BaPer" menciptakan kau semangat untuk melihat "doi" di setiap mata kuliah dan/atau mata pelajaran tiap hari, yang artinya kau akan dengan bahagia hati mengikuti pelajaran yang berlangsung, atau mungkin saja, kau menjadi lebih calm dari sebelumnya-meski menyerupai menjiplak sifat-tapi setidaknya sanggup memperlihatkan kebaikan pada orang-orang yang sudah bosan dengar celoteh kau yang lebih dari kata luar biasa. Peace! :)
Tapi, jikalau terlalu berlebihan "BaPer"nya juga gak baik. Pernah juga nih, si "doi" bilang, jikalau seseorang yang terlalu baper malah jadi terlalu berharap dan ujung-ujungnya akan menyakiti diri sendiri, jikalau ternyata apa yang ia rasakan itu hanya fiktif belaka. Hahaha :D (Nah, jikalau gitu, kan yang sakit dengar kata-katanya siapa hayo?? :D)
Nah toh, kembali lagi pada diri masing-masing. Mau anggap "BaPer"nya sebagai sesuatu yang membangundan bebas linear *eh? atau mau terlalu berlebihan (Tapi, ingat ya! sesuatu yang berlebihan juga gak baik). Sarannya saya sih, lebih baik menempatkan perasaan pada tempatnya saja, toh "BaPer" gak akan menciptakan laba lebih atau kerugian lebih buat hidup kita #eaa. Jika begitu, kata sahabat saya sih "Nikmati saja! toh ini namanya pengalaman hidup, asal jangan melanggar norma-norma yang berlaku dalam hidup" So that, jalani pilihan yang kalian suka, meskipun melalui banyak risiko, toh namanya juga hidup, penuh pasang dan surut. Okay Readers, Salam Syukur :)
Jadi, yah cukup sekian dari saya, agar sanggup bermanfaat, jikalau ada yang ingin sobat tanyakan silakan sampaikan pada kotak komentar yang ada dibawah atau sanggup juga melalui halaman contact blog ini. Maafkan alasannya yaitu coretan ini agak acak-acakan dari yang biasanya. Peace!!
Terima kasih.
Sumber http://www.maringngerrang.com/
"BaPer" juga bergotong-royong sanggup buat laba buat yang merasakannya, (mungkin, gak yakin juga sih!) contohnya dengan "BaPer" menciptakan kau semangat untuk melihat "doi" di setiap mata kuliah dan/atau mata pelajaran tiap hari, yang artinya kau akan dengan bahagia hati mengikuti pelajaran yang berlangsung, atau mungkin saja, kau menjadi lebih calm dari sebelumnya-meski menyerupai menjiplak sifat-tapi setidaknya sanggup memperlihatkan kebaikan pada orang-orang yang sudah bosan dengar celoteh kau yang lebih dari kata luar biasa. Peace! :)
Tapi, jikalau terlalu berlebihan "BaPer"nya juga gak baik. Pernah juga nih, si "doi" bilang, jikalau seseorang yang terlalu baper malah jadi terlalu berharap dan ujung-ujungnya akan menyakiti diri sendiri, jikalau ternyata apa yang ia rasakan itu hanya fiktif belaka. Hahaha :D (Nah, jikalau gitu, kan yang sakit dengar kata-katanya siapa hayo?? :D)
Nah toh, kembali lagi pada diri masing-masing. Mau anggap "BaPer"nya sebagai sesuatu yang membangun
Jadi, yah cukup sekian dari saya, agar sanggup bermanfaat, jikalau ada yang ingin sobat tanyakan silakan sampaikan pada kotak komentar yang ada dibawah atau sanggup juga melalui halaman contact blog ini. Maafkan alasannya yaitu coretan ini agak acak-acakan dari yang biasanya. Peace!!
Terima kasih.
Sumber http://www.maringngerrang.com/
Buat lebih berguna, kongsi: