Loading...

√ Kesempatan Tidak Tiba Kedua Kalinya Dalam Hidup Ini

Kesempatan tidak tiba kedua kalinya dalam hidup iniKesempatan itu yaitu sebuah waktu yang sangat baik  yang berpihak kepada kita, baik yang mendatangkan rejeki ataupun lainnya yang terperinci posisi kita pada ketika tersebut berada dalam posisi yang sangat beruntung. Maka kalau ada dari kita yang mendapat kesempatan maka jangan pernah menunda-nunda lagi apalagi mengabaikan kesempatan tersebut. 
Kesempatan tidak tiba kedua kalinya dalam hidup ini √ Kesempatan tidak tiba kedua kalinya dalam hidup ini
Kesempatan tidak tiba kedua kalinya
Dalam kehidupan sehari-hari sering sekali kita mendapat kesempatan kepada kita, menyerupai contohnya seorang anak sekolah mendapat beasiwa lantaran mendapat rangking satu, jadi untuk mendapat beasiswa tersebut siswa tersebut harus melaksanakan pembuktian dengan cara melampirkan surat keterangan telah mendapat rangking satu dan melampirkan banyak sekali piagam penghargaan yang pernah ia peroleh. Makara kalau sang anak didik tersebut tidak melengkapi semua persyaratan yang diminta maka otomatis peluang ataupun kesempatan yang baik bagi dirinya untuk mendapat beasiswa tersebut belum tentu akan ia dapatkan untuk kedua kalinya pada ketika lain. Maka dari itu gunakanlah kesempatan yang ada untuk dipergunakan semaksimal mungkin untuk mendatangkan manfaat yang kita inginkan. Terkadang kebanyakan pada diri kita sering mengabaikan kesempatan yang ada lantaran banyak sekali faktor, menyerupai malas, sepele, ataupun malah ingin mendapat manfaat yang lebih besar lagi dari kesempatan tersebut. 
(Baca Pengertian dan Penjabaran Sikap Qanaah Dalam Islam)
(Baca Memahami Philosofi Kehidupan Pohon Bambu)

Untuk lebih jelasnya bagaimana perilaku mengharapkan keberuntungan yang lebih dengan mengabaikan kesempatan yang ada tesebut yaitu menyerupai dongeng berikut ini.

Pada suatu massa hiduplah seorang pengemis renta seorang diri, dimana dalam keseharianya ia menghabiskan waktunya hanya untuk mengemis semoga sanggup memenuhi kebutuhan makannya sehari-hari. Dalam menekuni profesinya layaknya orang yang lain ia selalu bercita-cita untuk mendapat uang yang banyak contohnya dengan menemukan benda yang berharga ataupun ada pinjaman uang yang banyak dari orang kaya yang iba dengan profesinya tersebut, disamping ia juga terus berdoa supaya mendapat rejeki yang ia impikan tersebut.   

Pada suatu hari pengemis renta tersebut melihat se-ekor kucing yang sangat anggun dan bersih, ia mencoba mendekati kucing tersebut dan ternyata kucing yang gemuk itu sangat jinak dan manja. Melihat gelagat kucing yang sangat menarik perhatiannya tersebut, kemudian timbul rasa ingin memelihara kuncing tersebut. Dengan hati-hati dan mengamati keadaan disekeliling kemudian pengemis itu membawa pulang kucing itu kerumahnya kemudian mengikat supaya tidak keluar dan lari dari rumahnya. Selang dua hari kemudian ia mendapat kabar di helaian korang bekas di kawasan ia sering menjalankan profesinya bahwa ternyata yang mempunyai kucing tersebut yaitu seorang saudagar kaya raya. Dan ia menyaksikan sendiri kalau didalam korang tersebut dinyatakan bagi siapa saja yang menemukan anak kucing tersebut akan diberikan hadia sebesar dua puluh lima juta rupiah. Membaca gosip tersebut pengemis tersebut sangat bahagia dan ia eksklusif memeutuskan untuk pulang kerumahnya. Setibanya dirumah ia eksklusif memutuskan untuk membawa kucing tersebut kepada saudagar kaya untuk mendapat hadiah yang telah dijanjikan, dalam perjalanan menuju kerumah orang kaya sekitar 30 meter dari rumahnya tiba-tiba muncul pikiran lain di hatinya yang dipicu oleh rasa serakah. Dia memutuskan untuk membawa kembali kucing tersebut ke rumahnya dengan perkiraan bahwa kalau besok hari jumlah proposal yang akan dibayarkan oleh saudagar kaya tersebut akan bertambah.  

Keesokan harinya, tebakan pengemis ini benar adanya, sewaktu ia melintasi sebuah warung ia mendengar gosip di telivisi kalau proposal yang diberikan oleh suadagar kaya tersebut bagi yang menemukan kucing kesayangannya bertambah menjadi tiga puluh lima juta rupiah. Mendengar gosip tersebut ia sangat kegirangan dan kembali muncul hasrat loba di hatinya ’kalu begitu aku akan menunggu hingga suadagar kaya raya tersebut memperlihatkan hadiah hingga dengan lima puluh juta rupiah, mungkin paling ada sekitar 2 hari lagi niscaya proposal tersebut akan jadi lima puluh juta rupiah pikir pengemis tersebut’. Hari terus berlalu dan pada hari kedua proposal yang diberikan meleset dari apa yang diprediksikan oleh pengemis tersebut ternyata tawarannya meningkat hanya empat puluh lima juta rupiah dan belum mencapai lima puluh juta menyerupai yang ia impikan. Kemudia pas selang satu hari berikutnya ternyata harapan ia kali ini menjadi kenyataan, ia menyaksikan sendiri selebaran-selebaran yang ditempel di kawasan ia mengemis kalau proposal hadiah yang diberikan sudah mencapai lima puluh juta rupiah. Melihat selebaran tersebut ia eksklusif bergegas pulang menuju rumahnya. Dengan tergesa-gesa ia mempercepat langkah kakinya lantaran sudah tidak sabar lagi ingin segera hingga dirumah dan mengembalikan kucing tersebut kepada pemiliknya. Setibanya di rumah, alangkan terkejutnya pengemis renta tersebut lantaran ia mendapat kucing itu sudah dalam keadaan tidak bernyawa lagi lantaran disebabkan oleh kelalaiaanya sendiri yang tidak memperlihatkan masakan lantaran asik memikirkan uang yang besar sebagai imbalan yang akan ia terima. Penyesalan hanyalah penyesalan nasi sudah menjadi bubur, lantaran perilaku tamaknya sehingga ia gagal memanfaatkan kesempatan yang ada untuk sanggup merubah kehidupanya. Namun mimpi hanya mimpi, sehingga kesempatan emas berlalu dengan tidak sanggup dimanfaatkan oleh pengemis itu. 

Itu hanya pola kecil yang mungkin saja sanggup terjadi dalam kehidupan kita, namun lantaran perilaku kita yang tidak peka dengan itu malah peluang tersebut hilang dengan sendirinya, dan tidak sanggup kembali lagi untuk kedua kalinya. Kalau dalam kehidupan agama islam penyesalan yang paling besar yaitu ketika kita tidak sanggup memanfaatkan waktu hidup kita dunia untuk mengabdi kepadan-Nya sehingga penyesalan ketika kita berada dipintu kubur tetap akan menjadi sebuah penyesalan terbesar yang tidak akan sanggup kita perbaiki kembali sehabis melewati kehidupan di dunia ini. Maka dari itu marilah kita memanfaatkan peluang yang ada semaksimal mungkin jangan hingga kita dikontrol oleh hawa nafsu dan perilaku loba serakah dan tamak sehingga kita akan hancur dan menyesalinya tanpa sanggup kita mengulanginya kembali untuk memperbaiki kesempatan yang telah kita lewati. 


Sumber http://www.pondok-belajar.com/
Buat lebih berguna, kongsi:

Trending Kini: