Wahai kawanku masiswa diseluruh Indonesia, 20 hari lagi pemerintah akan memutuskan bahwa harga BBM bersubsidi jadi dinaikkan atau tidak. Dan mungkin 20 hari lagi kondisi perekonimian negeri ini akan berbeda. Seandainya kebijakan kenaikan harga BBM bersubdi benar-benar ditetapkan maka terperinci Kenaikan BBM ini akan mendorong meningkatnya biaya produksi dan biaya transportasi, yang pada kesudahannya sangat memengaruhi kenaikan harga jual barang dan jasa. Akibatnya daya beli masyarakat akan menurun dan tentunya akan juga terjadi inflasi. Seiring naiknya biaya produksi biasanya perusahaan akan mengurangi jumlah produksi yang akan menyebabkan pemutusan korelasi kerja (PHK) terhadap beberapa karyawan. Entah akan dikemanakan nanti nasib para karyawan dan keluarganya yang terkena PHK. Berdasarkan pengalaman sebelumnya kenaikan BBM bersubsidi juga selalu diikuti dengan naiknya harga kebutuhan pokok. Ditengah-tengah kondisi masyarakat yang masih kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya pantaskah pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi? Padahal Pemerintah pada Desember 2011 kemudian berjanji tidak akan menaikkan BBM yang dengan terperinci tertera pada Pasal 7 dalam UU No. 22 Tahun 2011 perihal APBN 2012 ayat (6).

Apakah alasan pemerintah ini sudah bisa diterima saudraku? Mengingat ada trilyunan dana APBN yang dikorupsi oleh bandit-bandit yang duduk cantik dikursi pemerintahan tanpa peradilan yang jelas. Tidak adakah jalan lain yang bisa ditempuh pemerintah untuk menuntaskan duduk kasus ini tanpa harus mengorbankan rakyatnya? Sebenarnya banyak langkah-langkah yang sanggup diambil pemerintah, diantaranya optimalisasi kinerja Pertamina, efisiensi perdagangan produk BBM, menutup kebocoran anggaran dan belanja pemerintah, optimalisasi penerimaan negara diantaranya penerimaan pajak, dan lainnya. Sebagai teladan sederhana piutang penerimaan pajak Negara ketika ini yakni sekitar Rp. 57 Triliun, belum termasuk perhitungan bunga. Sedangkan perhitungan berangasan rencana kenaikan BBM ini, berdasarkan salah satu forum kajian energi, hanya bisa menghemat subsidi pemerintah sekitar 19 hingga 57 Triliun Rupiah. Hal ini belum ditambah perhitungan efek meningkatnya inflasi.
Haruskah kita berdiam diri dengan keadaan yang terjadi ketika ini saudaraku? Tegakah kita melihat ribuan karyawan yang akan terkena PHK? Tidakkah terpikir oleh kita bagaimana susahnya nanti rakyat miskin untuk memenuhi hajat hidupnya? Kita masih punya waktu saudaraku. Beri pemerintah jalan terbaik untuk menuntaskan kasus ini. Dan kita harus selalu berada disisi terdekat rakyat miskin yang tertindas untuk menyelamatkan dan melindungi mereka, alasannya kita yakni Mahasiswa.Sumber http://kickfahmi.blogspot.com
Buat lebih berguna, kongsi: